Bobot nilai RBB BUMN 2026 bikin gagal? Pahami ini!

bobot nilai rbb bumn 2026

Bobot nilai RBB BUMN 2026 – menjadi faktor krusial bagi pelamar yang ingin lolos Rekrutmen Bersama BUMN di tengah persaingan ketat. Sayangnya, banyak peserta hanya fokus “lulus tes” tanpa memahami bagaimana tiap tahap dinilai dan seberapa besar pengaruhnya terhadap nilai akhir.

Hingga awal 2026, bobot resmi RBB BUMN 2026 memang belum dirilis. Namun, pola pembobotan RBB BUMN 2025 dari FHCI bisa dijadikan acuan paling relevan, karena skema umumnya tidak berubah drastis tiap tahun.

Dengan memahami bobot tiap tes, kamu bisa menyusun strategi belajar yang lebih terarah—tidak sekadar mengejar passing grade, tetapi memaksimalkan bagian tes yang paling menentukan nilai akhir sesuai jenjang pendidikanmu.

Apa Itu Bobot Nilai RBB BUMN 2026 dan Mengapa Penting Banget Kamu Pahami?

Apa Itu Bobot Nilai RBB BUMN 2026 dan Mengapa Penting Banget Kamu Pahami?

Sebelum masuk ke angka, mari luruskan konsepnya dulu. Bobot nilai dalam konteks RBB BUMN adalah proporsi kontribusi masing-masing tahap tes terhadap nilai akhir yang dipakai untuk menentukan kelulusan. Jadi, bukan sekadar lulus passing grade, tetapi berapa besar pengaruh nilai setiap tahap ke peringkat akhirmu.

Mengacu pada pola 2025, RBB BUMN memecah rangkaian tes menjadi beberapa level:

  1. Tes online Tahap 1
    Biasanya berisi:
    • Tes Kemampuan Dasar (TKD)
    • Tes Core Values AKHLAK
    • Tes Wawasan Kebangsaan (TWK)
  2. Tes online Tahap 2
    Umumnya meliputi:
    • Tes Bahasa Inggris (TBI)
    • Tes Learning Agility

Di belakang layar, panitia tidak hanya melihat “nilai mentah”, tetapi mengonversinya menjadi skor tertentu, lalu dikalikan bobot, dan akhirnya diakumulasikan menjadi nilai total. Nah, di sinilah konsep bobot nilai itu bekerja.

Bayangkan sederhana begini:
Jika Tahap 1 dibobot 60 persen dan Tahap 2 dibobot 40 persen, maka meskipun nilai Tahap 2 kamu sangat tinggi, tetapi jika Tahap 1 jeblok, nilai akhirmu tetap akan tertarik turun. Sebaliknya, jika Tahap 1 kamu kuat, kamu punya “bantalan” yang membuat peluangmu tetap hidup, walaupun Tahap 2 tidak sempurna. Inilah yang menjadikan strategi belajar berdasarkan bobot jauh lebih efisien.

Pola Bobot 2025 yang Bisa Jadi Acuan 2026

Karena aturan resmi 2026 belum dirilis, pola ini menggunakan data RBB BUMN 2025 yang paling update dan realistis untuk dijadikan pegangan sementara.

Skema pembobotan tingkat pendidikan:

  • Untuk lulusan D3 sampai S2:
    Tes Online Tahap 1: 60 persen
    Tes Online Tahap 2: 40 persen
  • Untuk lulusan SMA atau sederajat:
    Tes Online Tahap 1: 40 persen
    Tes Online Tahap 2: 60 persen

Artinya apa?

  1. Untuk D3 – S2, Tahap 1 adalah “panglima” nilai. Mayoritas nasibmu ditentukan dari performa di Tahap 1.
  2. Untuk SMA, justru Tahap 2 yang paling menentukan. Kamu tidak bisa meremehkan TBI dan Learning Agility, karena mereka menyumbang porsi nilai terbesar.

Dengan memahami pola ini, kamu tidak lagi sekadar “belajar semua sama beratnya”, tetapi sudah bisa memberi porsi latihan yang berbeda sesuai dampaknya ke nilai akhir.

Membongkar Detail Bobot Tes Tahap 1: TKD, AKHLAK, dan TWK

Banyak peserta menganggap Tahap 1 itu hanya satu paket nilai. Padahal, di dalam Tahap 1 sendiri ada pembobotan internal antarkomponen tes yang memengaruhi skor akhir tahap ini. Di sinilah strategi taktismu benar-benar diuji.

Komponen Tes Tahap 1 dan Bobotnya

Untuk jenjang D3 sampai S2, sejumlah analisis dan sumber pembinaan rekrutmen BUMN mengurai bahwa Tahap 1 terdiri dari tiga komponen besar berikut:

  1. Tes Kemampuan Dasar (TKD)
    Berisi soal logika, verbal, dan numerik.
    – Bobot sekitar 40 persen dari total skor Tahap 1.
    – Passing grade yang sering disebut untuk RBB 2025: minimal 58.
  2. Tes Core Values AKHLAK
    Mengukur seberapa sesuai perilaku dan nilai pribadimu dengan nilai dasar BUMN: Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.
    – Bobot sekitar 50 persen dari total skor Tahap 1 (ini bobot terbesar).
    – Nilai aman yang sering menjadi acuan: sekitar 65 ke atas.
  3. Tes Wawasan Kebangsaan (TWK)
    Menguji pemahamanmu tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan wawasan kebangsaan lain.
    – Bobot sekitar 10 persen dari total skor Tahap 1.
    – Nilai minimum yang banyak dirujuk: sekitar 50.

Untuk jenjang SMA, struktur tesnya serupa, dengan penyesuaian di bobot keseluruhan. Meski angka detail bisa sedikit berbeda, TKD tetap menjadi komponen dasar penting yang tidak boleh jatuh di bawah ambang aman (sering disebut minimal 58).

Bagian menariknya: ada sumber yang menyebut bahwa di beberapa tahun terakhir, konsep passing grade tidak selalu dijadikan patokan mati seperti seleksi CPNS. Sebaliknya, panitia menggunakan sistem peringkat. Namun, angka “ambang aman” seperti 58, 65, atau 50 tetap penting sebagai rambu, agar kamu tahu seberapa jauh kamu sudah berada di zona kompetitif.

Cara Kerja Bobot di Tahap 1 (Ilustrasi Nyata)

Agar tidak abstrak, bayangkan kamu lulusan S1, dengan hasil simulasi nilai Tahap 1 seperti berikut:

  • TKD: 70
  • AKHLAK: 80
  • TWK: 60

Dengan bobot internal:
– TKD: 40 persen
– AKHLAK: 50 persen
– TWK: 10 persen

Maka skor Tahap 1 kamu secara teoritis kira-kira seperti ini:

  • Kontribusi TKD: 70 × 40 persen = 28
  • Kontribusi AKHLAK: 80 × 50 persen = 40
  • Kontribusi TWK: 60 × 10 persen = 6

Total skor Tahap 1: 28 + 40 + 6 = 74

Angka 74 inilah yang nantinya akan dibawa ke formula nilai akhir, lalu dikalikan bobot Tahap 1 (60 persen untuk D3–S2).

Coba bandingkan dua skenario sederhana:

  1. TKD sedang, AKHLAK kuat, TWK cukup
    – TKD 65, AKHLAK 85, TWK 60
    – Skor Tahap 1 mungkin sekitar:
    – TKD: 65 × 40 persen = 26
    – AKHLAK: 85 × 50 persen = 42,5
    – TWK: 60 × 10 persen = 6
    – Total Tahap 1 ≈ 74,5
  2. TKD kuat, AKHLAK biasa, TWK biasa
    – TKD 85, AKHLAK 65, TWK 60
    – Skor Tahap 1:
    – TKD: 85 × 40 persen = 34
    – AKHLAK: 65 × 50 persen = 32,5
    – TWK: 60 × 10 persen = 6
    – Total Tahap 1 ≈ 72,5

Di skenario kedua, walaupun TKD jauh lebih tinggi, nilai total sedikit kalah karena bobot AKHLAK yang lebih besar. Pelajarannya jelas: untuk jenjang D3–S2, menganggap remeh tes AKHLAK adalah kesalahan fatal. Justru di sanalah “uang nilai” terbesar berada.

Strategi Belajar Tahap 1 Berdasarkan Bobot

Jika kita terjemahkan bobot tadi menjadi strategi, gambarannya seperti ini:

  1. Untuk D3 – S2
    – AKHLAK adalah prioritas utama. Latih pemahaman nilai-nilai BUMN dan bagaimana merefleksikannya secara konsisten di jawaban. Banyak soal model inventory kepribadian yang jawabannya tidak hitam putih, jadi konsistensi dan kejujuran yang selaras dengan AKHLAK sangat penting.
    – TKD adalah fondasi. Kamu perlu latihan intens soal logika, numerik, dan verbal. Skor TKD yang jeblok bisa menarik total skor Tahap 1 ke bawah.
    – TWK jangan diabaikan, meski bobotnya hanya 10 persen. TWK dengan skor sangat rendah bisa jadi sinyal buruk di mata panitia, apalagi untuk BUMN yang sangat menjunjung wawasan kebangsaan.
  2. Untuk SMA/sederajat
    – Jaga agar TKD tidak jatuh di bawah nilai aman seperti 58. Dengan kemampuan dasar yang cukup, kamu punya pijakan yang baik sebelum masuk Tahap 2.
    – Latihan AKHLAK dan TWK tetap penting, karena nilai Tahap 1 akan dikombinasikan dengan Tahap 2. Jangan berharap “diselamatkan” Tahap 2 saja tanpa pondasi di Tahap 1.

Jika kamu menggunakan tryout atau simulasi online, biasakan bukan hanya mengejar “lulus atau tidak”, tapi lihat:
– Komponen mana yang bobotnya besar?
– Di mana titik lemahmu?
Lalu fokuskan latihan di titik lemah yang bobotnya tinggi terlebih dahulu.

Setelah lolos Tahap 1, banyak pelamar merasa lega, lalu sedikit lengah. Padahal, di beberapa jenjang, Tahap 2 adalah penentu utama peringkat akhir. Terutama bagi lulusan SMA, di mana bobot Tahap 2 bisa mencapai 60 persen dari total nilai.

Mengupas Tes Tahap 2: TBI, Learning Agility, dan Dampaknya ke Nilai Akhir

Berdasarkan RBB BUMN 2025, komponen Tahap 2 umumnya terdiri atas:

  1. Tes Bahasa Inggris (TBI)
    – Biasanya berisi sekitar 85 soal, dengan durasi 80 menit.
    – Passing grade yang sering disebut: skor 450.
    – Soal menguji kemampuan reading, grammar, dan vocabulary.
  2. Tes Learning Agility
    – Sekitar 100 soal dengan durasi 35 menit.
    – Passing grade yang diacu: skor 16 (dengan sistem scoring tertentu).
    – Mengukur bagaimana cara kamu belajar dari pengalaman, merespons perubahan, dan beradaptasi di situasi baru.

Skor dari kedua tes ini kemudian akan dikonversi ke skala tertentu, lalu digabung dan diberi bobot sebagai skor Tahap 2. Pada akhirnya, skor Tahap 2 inilah yang dikalikan dengan bobot 40 persen untuk D3–S2 atau 60 persen untuk SMA, sebelum dijumlahkan dengan skor Tahap 1.

Mengapa TBI dan Learning Agility Sangat Berpengaruh?

Untuk jenjang D3–S2:
– Meskipun Tahap 1 memiliki bobot yang lebih besar, Tahap 2 tetap bisa menjadi penentu beda tipis antar kandidat. Jika kamu dan pesaing memiliki skor Tahap 1 mirip, keunggulan di TBI dan Learning Agility bisa menjadi “penyela” yang mengangkatmu ke posisi aman dalam peringkat.

Untuk jenjang SMA:
– Tahap 2 adalah “arena utama”. Sehebat apa pun skor Tahap 1, jika Tahap 2 kamu lemah, peluang lolos akan sangat tergerus. BUMN butuh talenta muda yang tidak hanya kuat di kemampuan dasar, tetapi juga adaptif dan siap menghadapi lingkungan kerja modern yang menuntut bahasa Inggris dan kemampuan belajar cepat.

Ilustrasi Pengaruh Skor Tahap 2 ke Nilai Akhir

Mari ambil contoh sederhana untuk lulusan S1:

  • Skor Tahap 1: 74
  • Skor Tahap 2 (setelah konversi): 80

Dengan bobot:
– Tahap 1: 60 persen
– Tahap 2: 40 persen

Maka nilai akhir:
– Kontribusi Tahap 1: 74 × 60 persen = 44,4
– Kontribusi Tahap 2: 80 × 40 persen = 32

Total nilai akhir: 76,4

Bandingkan dengan kandidat lain:

  • Skor Tahap 1: 78
  • Skor Tahap 2: 70

Nilai akhir:
– Tahap 1: 78 × 60 persen = 46,8
– Tahap 2: 70 × 40 persen = 28
– Total nilai akhir: 74,8

Di sini terlihat, meski skor Tahap 1 pesaing sedikit lebih tinggi, keunggulanmu di Tahap 2 mengangkat nilai akhir di atasnya. Dalam sistem peringkat, selisih kecil seperti ini bisa menentukan siapa yang berada di atas garis kuota formasi.

Untuk SMA, dampak Tahap 2 akan lebih dramatis lagi karena bobot mencapai 60 persen. Itu artinya, peningkatan beberapa poin di TBI atau Learning Agility bisa berdampak besar ke posisi akhirmu.

Baca Juga : Gaji BUMN 2025: PLN, Pertamina, Telkom, KAI, dan yang Lainnya

Tips Menghadapi TBI dan Learning Agility Berdasarkan Bobot

Tips Menghadapi TBI dan Learning Agility Berdasarkan Bobot
  1. Untuk TBI:
    – Jangan menunggu “pengumuman resmi” dulu baru belajar. Dengan passing grade sekitar 450, kamu perlu latihan rutin setidaknya 2–3 bulan sebelumnya.
    – Fokus pada reading comprehension dan grammar dasar yang sering keluar, seperti tenses, preposition, dan structure.
    – Gunakan latihan waktu nyata agar terbiasa dengan durasi 80 menit untuk sekitar 85 soal.
  2. Untuk Learning Agility:
    – Pahami konsep, bukan sekadar menghafal kunci jawaban. Tes ini biasanya berbentuk pernyataan sikap, bukan soal hitungan.
    – Latihan dengan simulasi psikotes kepribadian yang mengukur bagaimana cara kamu merespons perubahan, memecahkan masalah baru, dan belajar dari kegagalan.
    – Jawablah secara konsisten. Sistem penilaian biasanya sensitif terhadap inkonsistensi sikap di berbagai soal.

Dengan bobot nilai RBB BUMN yang menempatkan Tahap 2 sebagai penentu signifikan, terutama untuk SMA, mempersiapkan kedua komponen tes ini bukan lagi pilihan, tetapi keharusan.

Satu hal yang sering membuat peserta bingung adalah: “Kalau passing grade ada, tapi kelulusan pakai peringkat, berapa sebenarnya nilai aman saya?”

Jawabannya: tidak ada angka tunggal yang dijamin aman untuk semua orang, karena setiap tahun jumlah pelamar, kualitas pesaing, dan kebijakan perusahaan peserta BUMN berbeda. Namun, dengan memahami pembobotan, kamu bisa memperkirakan target nilai personal yang realistis dan cukup kompetitif.

Pola Penentuan Kelulusan: Bukan Hanya Lulus Passing Grade

Mengacu pada pola RBB BUMN 2025, alur sederhananya kira-kira seperti ini:

  1. Peserta mengikuti Tes Online Tahap 1.
  2. Sistem menghitung skor Tahap 1 berdasarkan bobot internal (TKD, AKHLAK, TWK).
  3. Peserta yang memenuhi kriteria (baik passing grade maupun ranking) diundang ke Tahap 2.
  4. Peserta mengikuti TBI dan Learning Agility.
  5. Skor Tahap 2 dihitung, lalu digabung dengan skor Tahap 1 menggunakan bobot keseluruhan (60:40 atau 40:60).
  6. Nilai akhir diurutkan berdasarkan peringkat tertinggi untuk tiap formasi.
  7. Mereka yang berada di peringkat atas sesuai kuota formasi dinyatakan lulus ke tahap berikutnya atau diterima.

Artinya, dua orang dengan nilai mirip bisa mendapat nasib yang berbeda tergantung seberapa kompetitif pelamar di formasi yang sama. Inilah kenapa strategi yang paling sehat adalah:
– Pahami passing grade sebagai batas minimal.
– Gunakan pembobotan untuk menargetkan nilai di atas minimal, terutama di komponen dengan bobot besar.

Memakai Simulasi dan Kalkulator Skor

Ada beberapa alat bantu seperti kalkulator skor RBB (misalnya yang dikembangkan komunitas dan vendor bimbingan belajar) yang memungkinkan kamu memasukkan nilai simulasi Tahap 1 dan Tahap 2, lalu melihat estimasi nilai akhir. Meski tidak resmi, alat seperti ini bermanfaat untuk:

  • Mengukur posisi latihanmu saat ini.
  • Menentukan target realistis di tiap tes, bukan sekadar “ya semampunya”.
  • Mengetahui mana yang perlu digenjot lagi: Tahap 1 atau Tahap 2.

Saat mengisi simulasi, cobalah skenario “worst case” dan “best case”:
– Worst case: jika salah satu komponen nilainya agak rendah, apakah nilai akhirmu masih kompetitif jika komponen lain ditingkatkan?
– Best case: jika semua komponen naik beberapa poin, seberapa besar dampaknya ke nilai akhir?

Dengan cara ini, kamu belajar melihat gambaran besar, bukan hanya tegang menunggu hasil setiap tes.

Sampai awal 2026, belum ada dokumen resmi yang mempublikasikan detail bobot nilai RBB BUMN 2026. Namun, melihat pola dari tahun ke tahun, ada beberapa hal yang cenderung konsisten dan beberapa yang mungkin berubah.

Hal yang Umumnya Tetap Konsisten

  1. Adanya beberapa tahap tes online
    Kombinasi TKD, AKHLAK, TWK, serta tes kemampuan berbahasa dan psikologis seperti TBI dan Learning Agility hampir selalu muncul dalam berbagai format.
  2. Perbedaan bobot berdasarkan jenjang pendidikan
    Lulusan D3–S2 cenderung lebih ditekankan di kemampuan analitis dan nilai-nilai inti, sementara lulusan SMA diberi porsi lebih besar untuk mengukur potensi jangka panjang, seperti bahasa Inggris dan agility.
  3. Sistem peringkat sebagai penentu akhir
    Sekalipun ada passing grade, kelulusan akhir biasanya tetap ditentukan dari peringkat berdasarkan nilai total, bukan semata lulus ambang minimal.

Hal yang Mungkin Mengalami Penyesuaian

  1. Angka detail bobot
    Misalnya, bobot Tahap 1 dan Tahap 2 bisa sedikit bergeser, atau bobot internal TKD, AKHLAK, dan TWK bisa disesuaikan dengan kebijakan baru.
  2. Pola passing grade
    Di beberapa tahun, ada tes yang tidak lagi memakai passing grade kaku, melainkan lebih longgar dan diganti dengan sistem peringkat. Pola 2026 bisa saja sedikit berbeda untuk menyesuaikan dinamika rekrutmen nasional.
  3. Jadwal dan format teknis
    Durasi tes, jumlah soal, dan platform pelaksanaan bisa diperbarui, terutama jika ada evaluasi teknis dari penyelenggaraan tahun sebelumnya.

Cara Terbaik Menyikapi Ketidakpastian 2026

Alih-alih menunggu pengumuman resmi baru mulai belajar, kamu bisa:

  1. Gunakan pola 2025 sebagai baseline.
    Anggap bobot dan struktur tes 2025 sebagai “versi training” untuk 2026. Jika nanti ada sedikit penyesuaian, kamu sudah punya fondasi kuat dan tinggal adaptasi teknis.
  2. Fokuskuat di komponen berbobot tinggi.
    – D3–S2: AKHLAK dan TKD di Tahap 1, diikuti TBI dan Learning Agility.
    – SMA: Tahap 2 (TBI dan Learning Agility) sebagai prioritas utama, tanpa meninggalkan kesiapan Tahap 1.
  3. Ikuti kanal resmi informasi.
    Pantau situs resmi rekrutmen BUMN dan kanal resmi FHCI. Hindari hanya bergantung pada kabar berantai, yang sering kali tidak lengkap atau sudah tidak relevan.

Pada akhirnya, persiapan yang konsisten akan selalu lebih kuat dibanding menunggu aturan sempurna. Aturan bisa berubah sedikit, tetapi kemampuan dasarmu tidak akan sia-sia.

Setiap angka bobot nilai, setiap passing grade, dan setiap simulasi nilai yang kamu kerjakan sebenarnya bukan sekadar deret matematika, tetapi representasi dari satu hal: seberapa serius kamu memperjuangkan kesempatanmu di BUMN. Di tengah ketatnya saingan CASN dan rekrutmen lain, memahami bobot nilai RBB BUMN 2026 memberi kamu keunggulan strategis yang tidak dimiliki semua orang.

Kamu sekarang tahu, Tahap 1 dan Tahap 2 bukan sekadar rintangan acak, melainkan dua pilar yang proporsinya berbeda tergantung jenjang pendidikanmu. Untuk D3–S2, fondasi kuat di AKHLAK dan TKD bisa menjadi penentu. Untuk SMA, performa impresif di TBI dan Learning Agility dapat mengangkat posisimu secara dramatis. Dengan pemahaman ini, kamu bisa berhenti belajar secara acak dan mulai menyusun rencana:
kapan latihan TKD, bagaimana mengasah AKHLAK, seberapa sering mengerjakan soal TBI, dan bagaimana melatih kejujuran sekaligus konsistensi dalam Learning Agility.

Jangan tunggu semua detail 2026 diumumkan baru bergerak. Justru mereka yang mulai mempersiapkan diri dengan acuan 2025 akan berada beberapa langkah di depan ketika pengumuman resmi keluar. Tetapkan target pribadimu, latih diri secara teratur, dan gunakan setiap simulasi sebagai latihan membaca bukan hanya nilai, tetapi juga peluang.

Kamu mungkin belum tahu hasil akhirnya hari ini, tetapi kamu sepenuhnya berkuasa atas prosesnya. Selama kamu konsisten mempersiapkan diri dengan cerdas, memahami bobot nilai, dan mengelola rasa cemas dengan rencana yang jelas, peluangmu untuk menembus gerbang perusahaan pelat merah akan selalu hidup. Terus bergerak, terus belajar, dan izinkan usaha terbaikmu berbicara saat hari ujian itu tiba.

Sumber Referensi

  • DETIK.COM – Nilai Ambang Batas BUMN 2025 Berdasarkan Aturan RBB, Yuk Cek di Sini
  • ANTARANEWS.COM – Ingat, Ini Nilai Ambang Batas untuk Lulus Tes Tahap 2 RBB BUMN 2025
  • JADIBUMN.ID – FAQ RBB BUMN: Bagaimana Hasil Pembobotan dari Keseluruhan Tes
  • BIMBELCPNS.COM – Berapa Nilai Aman Lolos Tes Tahap 1 BUMN? Ini Analisisnya
  • SINDONEWS.COM – Ini Bobot Nilai Tes Online Tahap 3 Rekrutmen Bersama BUMN 2025 dan Tips Mengerjakannya

Testimoni jadiBUMN

Slide
previous arrow
next arrow

Program Premium Bimbel jadiBUMN 2025

Semakin sering latihan soal akan semakin terbiasa, semakin cepat, semakin teliti dan semakin tepat mengerjakan soal-soal Rekrutmen BUMN 2025 ” 🌟

Kunci sukses Tes Rekrutmen BUMN adalah membiasakan diri mengerjakan ribuan tipe soal Tes Rekrutmen BUMN seperti anak bayi yang belajar berjalan terasa berat diawal dan akan terbiasa bila terus dilatih hingga bisa berlari kencang.

Cover Slidder JadiBUMN 2026
previous arrow
next arrow

📋 Cara Membeli dengan Mudah:

  1. Unduh Aplikasi jadiBUMN: Temukan aplikasi jadiBUMN di Play Store atau App Store, atau akses langsung melalui website.
  2. Masuk ke Akun Anda: Login ke akun jadiBUMN Anda melalui aplikasi atau situs web.
  3. Pilih Paket yang Cocok: Dalam menu “Beli”, pilih paket bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Pastikan untuk melihat detail setiap paket.
  4. Gunakan Kode Promo: Masukkan kode “BIMBELBUMN” untuk mendapat diskon spesial sesuai poster promo
  5. Gunakan Kode Afiliasi: Jika Anda memiliki kode “RES163797”, masukkan untuk diskon tambahan.
  6. Selesaikan Pembayaran: Pilih metode pembayaran dan selesaikan transaksi dengan aman.
  7. Aktivasi Cepat: Paket Anda akan aktif dalam waktu singkat setelah pembayaran berhasil.

Mau berlatih Soal-soal Rekrutmen BUMN? Ayoo segera gabung sekarang juga!! GRATISSS

>

Bagikan :

Artikel CPNS Lainnya :

Siap Hadapi Tes BUMN

Dapatkan arahan belajar sesuai target instansi BUMN yang ingin kamu tuju.

Coba Journey JadiBUMN

Coba gratis Journey JadiBUMN untuk strategi lolos RBB BUMN yang telah disesuaikan dengan kebutuhan pejuang RBB BUMN

Mulai Perjalanan Belajar RBB BUMN Sekarang